1. Surat Untuk Yang 9 Tahun Lalu Telah Tiada.

    “Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar.. Laailaahaillallah.. Allahuakbar.. Allahuakbar.. Walillahilham..”

    Alhamdulillah malam ini masih bisa denger senandung suara takbir bersama keluarga. Lebih tepatnya keluarga yang masih tersisa sejak 9 tahun lalu. Wah cukup lama juga ya, ternyata sudah 9 tahun kami melewati puasa dan lebaran tanpa kamu. Jadi inget dulu, di malam takbiran kita selalu berkumpul di musholla rumah, menggemakan takbir bersama. Tapi itu dulu 9 tahun yang lalu.

    Hmm, kami pernah mengulang ritual itu tanpa kamu. Beda. Rasanya beda. Dulu raga kamu juga ada bersama kami, tapi semenjak 9 tahun lalu yang ada cuman bayangan masa lalu dan sisa-sisa kepedihan tentangmu yang menemani kami.

    Sekarang masih dengan suasana yang sama, Makassar dan seisinya yang menghiasi hari di kota ini. Selama 9 tahun, banyak banget perubahan dari kota ini. Sama seperti kami, banyak perubahan juga yang terjadi, banyak masa yang kami lewati, banyak kisah yang kami lalui, hingga akhirnya kini kami terbiasa tanpa kamu. Ya, lebih tepatnya kami berusaha membiasakan diri.

    Malam ini, aku menulis ditemani dengan lantunan suara takbir dan bunyi-bunyi petasan yang terkadang mengagetkan, juga dengan sedikit air yang menggumpal di ujung mata. Aku duduk di pojok kamar karena takut semuanya menyadari, kalau kami akan kembali melewati lebaran tanpa kamu.

    Ohya, gimana rasanya melewati ramadhan dan lebaran di sana? Pasti khidmat banget ya? Beda sama di sini, seharusnya malam takbiran ini dilewati dengan suasana yang syahdu tapi malah dirusak sama suara petasan dan knalpot motor yang bising.

    Entah harus melewati berapa belas kali atau mungkin berapa puluh kali ramadhan lagi untuk ngerasain suasana ramadhan dan lebaran di tempat kamu sekarang. Atau jangan-jangan ini ramadhan terakhir tanpa kamu? Jangan, jangan. Aku belum siap. Aku belum punya banyak bekal buat nyusul ke tempat kamu. Aku harap sih, aku masih bisa melewati banyak ramadhan dan lebaran lagi di tempat aku yang sekarang bersama keluarga yang tersisa.

    Aku masih pengen banyak-banyak berdoa lagi buat kamu, buat kita semua. Supaya Tuhan yakin, kalau kita semua memang pantas dipersatukan kembali di tempat yang jauh lebih indah.

    Aku selalu menata dan menyimpan semua kerinduan ini dengan rapih, hingga nanti, suatu saat nanti di hari dan tempat yang indah semua rasa rindu ini pasti akan terbayar.

    Untuk kamu, selamat melewati hari-hari tanpa kami ya. Semoga kamu selalu bahagia agar aku bisa selalu merasakan senyumanmu bersama matahari senja.

    Dari aku yang merindukanmu dengan sepenuh jiwa dan ragaku,

    Siti Disyacitta Nastiti.

  2. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  3. Untuk yang telah berlalu dan tak akan pernah kembali: Masa Kecil.

    “Kamu tau, Tuhan nggak menentukan nasib. Tuhan cuma memberi orang beberapa karakteristik, seperti elektron, proton dan neutron dalam atom. Sisanya berjalan seperti hukum alam. Semua orang punya pilihan untuk menarik garis hidup mereka masing-masing.” Kata-kata ini dikutip dari salah satu novel yang pernah gua baca, -forgiven- judulnya.

    Akhirnya timbul lah sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan kalimat tadi, “apakah masa sekarang, detik-detik yang gua alami dan gua rasakan saat ini adalah garis hidup yang telah gua tarik sendiri? Dan apakah setiap orang memiliki kesempatan untuk menghapus dan menggambar kembali garis hidupnya masing-masing?”

    Tidak, tidak, gua mempertanyakan ini bukan karena gua menyesali apa yang telah terjadi.

    Gua bersyukur atas segala kekurangan dan kelebihan, serta kedukaan dan kebahagiaan yang silih berganti menghiasi hari-hari gua hingga detik ini. Gua sangat mensyukuri apa yang ada, tapi terkadang gua juga gak bisa memungkiri, kalo gua pun sangat merindukan hal-hal yang pernah terjadi sebelumnya. Hal-hal yang tak akan pernah terlupakan. Hal-hal yang sangat membahagiakan tetapi tak akan pernah bisa terulang kembali, salah satunya masa kecil.

    Yap, masa kecil. Gua rasa banyak orang akan mengiyakan dengan lantang, ketika gua bilang masa kecil adalah masa paling lepas yang pernah ada selama lo hidup, lo bisa ketawa sekenceng-kencengnya, lo bisa nangis sepuas-puasnya tanpa beban. Yap, tanpa beban, karena bagi gua yang membedakan antara masa kecil dengan masa yang gua jalani saat ini adalah satu, yaitu beban. Kalo orang bilang, “jangan dijadiin beban”, whatever you say, gua gak pernah menjadikan semuanya itu sebagai beban, tapi entah gimana, beban itu murni, beban itu ada dengan sendirinya, menuntut kita melakukan sesuatu yang harus sesuai dengan pola pikir kebanyakan orang. Beban itu tumbuh, mengikuti akar-akar kedewasaan yang juga tumbuh. Tetapi itu semua tidak mengurangi sedikit pun keindahan sebuah kehidupan. Hidup ini tetap indah dengan atau pun tanpa beban. Hidup ini masih tetap indah dengan masa kecil atau pun dengan masa sekarang.

    Di sini, gua hanya ingin berterimakasih. Terimakasih kepada masa kecil yang telah mengajarkan gua banyak hal, masa kecil yang menyimpan berlembar-lembar kenangan yang tak bisa dibayar dengan apapun, masa kecil yang menjadikan gua seperti apa adanya saat ini. Terimakasih kepada apapun dan siapapun yang pernah berjalan bersama melewati masa-masa kecil gua yang sangat indah seperti langit di kala senja. Terimakasih atas cerita bahagia maupun sendu yang tak akan pernah bisa terlupakan. Terimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menarik garis hidupnya masing-masing. Inilah hidup yang telah kita tentukan. Jalani saja dengan ketulusan dan keikhlasan. Sekali lagi, terimakasih Tuhan atas skenario-Mu yang sangat indah.

    Dari yang mencintai masa kecil,

    Siti Disyacitta Nastiti.

  4. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  5. classicmodels:

Joan Smalls By Solve Sundsbo For Vogue Italia May 2014

    classicmodels:

    Joan Smalls By Solve Sundsbo For Vogue Italia May 2014

  6. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  7. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  8. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  9. Kisah Tanpa Judul

    Di kota ini

    Aku menyaksikan perjalanan hidup yang mengharukan

    Daun kini jatuh berguguran

    Bersama luka yang perlahan-lahan mulai terobati

    Sungai yang mengalir melantunkan melodi kedamaian

    Aku bersandar di bawah pohon ini

    Ditemani udara sejuk yang menyusup hingga ke relung hati

    Kini mereka bisa tersenyum

    Tanpa ada sekat lagi yang menghalangi

    Dinding perbedaan itu telah runtuh

    Karena ketulusan hati mampu mengejawantahkan segalanya

    Dahulu mereka saling merasa paling benar

    Kini ego bisa meredam

    Dahulu perbedaan membelenggu kebebasan

    Menginjak ratakan persatuan

    Tapi, lagi-lagi ketulusan hati mengejawantahkan segalanya

    Kini mereka berjalan beriringan

    Saling menjaga

    Saling bergandeng tangan

    Dengan senyum tipis yang menghiasi wajah kebebasan

    Menuju keabadian

  10. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  11. Aku di sini…

    Di bawah lampu temarang ini

    Berdiri menanti

    Aku sedang merindu…

    Ketika kita berbaring menunjuk pada satu cahaya binar di langit-langit gelap

    Aku merindu

    Ketika malam ikut bersenandung dengan suara hati yang berteriak dalam kebisuan

    "Tumpahkan saja rasa itu" begitu gertaknya…

    Aku merindu pada satu kata yang sering kali kau bisikkan tanpa suara

    Cinta…

    Ya, cinta…

    Kita terperosok pada lubang itu

    Terjebak…

    Terjebak dalam keluguan sebuah cinta

    Kita bernyanyi-nyanyi mengikuti irama yang bergejolak

    Ketika tersadar, kita lupa nyanyian itu tak lagi bernada

    "Biarkan saja" katanya dengan suara sendu…

    Depok, 14 Mei 2014

    09.00 Pagi

  12. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  13. Katanya Aku Ini Meratap, Tapi Tidak Ah.

    Ini bukan kegelisahan, bukan juga ratapan.

    Ini hanya caraku bercerita dengan tinta-tinta yang menari indah.

    Ini hanyalah sebuah kesenangan, saat-saat dimana aku merasa semua terdiam, menyaksikan aku melantunkan alunan kisah di atas kertas putih.

    Sekali lagi, ini bukan tentang kebimbangan atau pun kedilemaan.

    Ini hanya caraku berbicara dengan hati, kejujuran dan juga dengan inspirasi.

    Depok, 7 Mei 2014

    11.21 Pagi

  14. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  15. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  16. Aku Ini Apa?

    Aku ini apa?

    Setetes air yang mengaliri kekeringan di jiwamu kah?

    Atau bintang yang hanya mampu menghiasi malammu jika awan kelabu tak menghalangi?

    Atau mungkin, aku ini pelangi yang tak bisa selalu kau sapa?

    Aku ini apa?

    Waktu yang berjalankah atau hanya sekedar senja bagimu?

    Depok, 6 Mei 2014.

  17. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  18. Ada makna dibalik apapun yang terjadi di dunia ini. Terkadang, tersirat pesan yang ingin Tuhan sampaikan. Karena Tuhan, punya caranya sendiri. :)
  19. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  20. Lalu, aku harus apa Tuhan?

    Semua telah terjadi. Kemarin terasa berat, hari ini pun sama dan mungkin esok pun juga masih terasa berat.

    Aku di sini, sendiri. Di sebuah lorong yang bertemankan kegelapan. Yang ku butuhkan hanyalah cahaya, sedikit pun tak apa, tapi ternyata tetap tak ada yang terpancar.

    Kosong, semua terasa kosong. Ingin berkisah tapi tak ingin lagi lebih banyak orang yang tahu. Lalu, aku harus apa Tuhan?

    Bila tetesannya tak dapat lagi terbendung. Bila jiwa mulai terasa benar-benar kosong. Bila gelisah selalu mengintai di kala malam tiba. Bila tak ada lagi tempat untuk berbagi apapun. Lalu, aku harus apa Tuhan?

    Maret, 2014.

  21. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  22. Manusia dan Perbedaan.

    Ternyata, semua memang bisa berubah. Manusia berubah, keadaan berubah, pemikiran pun juga berubah. Aku kira manusia yang hidup di bumi ini saling membutuhkan, saling melengkapi, saling menghargai, tak ada yang egois layaknya sepatu dan kaos kaki yang tak pernah melukai sesama, bergerak untuk saling melindungi. Nyatanya, manusia itu benar-benar berubah.

    Bukankah Tuhan menciptakan perbedaan untuk mendewasakan diri setiap manusia? Siapa yang bisa menerima perbedaan, dia lah yang dewasa. Siapa yang bisa saling menghargai, dia lah yang dewasa. Siapa yang bisa menyikapi apapun tanpa melukai hakikat perbedaan, dia lah yang dewasa. Tapi nyatanya, manusia itu benar-benar berubah.

    Aku kira, tugas manusia di bumi ini hanyalah berusaha sekeras-kerasnya untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya. Tapi mengapa aku masih mendengar bahkan melihat sendiri manusia saling menjatuhkan, tidak lagi saling menghargai, berusaha untuk saling membenarkan diri dengan cara apapun yang dipaksa-paksakan benar.

    Ternyata, manusia memang benar-benar berubah……

  23. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  24. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  25. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
© veils and visions